Presiden Prabowo Subianto kerap menggunakan narasi “antek asing” dalam berbagai pidatonya, yang mengalami pergeseran makna seiring waktu. Awalnya, istilah ini digunakan untuk mengkritik pejabat pemerintah dan media yang dianggap dipengaruhi oleh kepentingan luar negeri. Namun, belakangan, istilah tersebut juga ditujukan kepada organisasi non-pemerintah (LSM) dan media massa yang dianggap berupaya memecah belah Indonesia melalui pengaruh asing.
Sebagai contoh, dalam pidato pada peringatan ulang tahun Partai Gerindra di Sentul, Jawa Barat, pada 15 Februari 2025, Prabowo mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap kekuatan asing yang ingin menimbulkan kekacauan di Indonesia melalui LSM dan media massa.
Analisis terhadap 11 pidato Prabowo menunjukkan bahwa istilah “antek asing” paling sering digunakan untuk mengkritik kelompok masyarakat sipil dan organisasi mahasiswa yang bersikap kritis terhadap pemerintah. Pola ini mencerminkan upaya membangun simpati publik dengan mengontraskan antara pihak yang dianggap pro-rakyat dan pihak yang dituduh sebagai perpanjangan tangan kepentingan asing.
Also Read